Make your own free website on Tripod.com




Renungan Mingguan : 11 Maret 2001 Minggu Pra Paskah II

 

“KEBAHAGIAAN SEJATI ANAK-ANAK ALLAH”  
(Kej. 15:5-1, 17-18; Fil 3:17-4:1; Lk 9: 28-36)

oleh: Rm. Y. Suradi, Pr. 

Saudara-saudara terkasih, minggu pertama Prapaskah kemarin kita diajak merenungkan “padang Gurun”. Padang gurun adalah “saat matiraga”, yakni puasa dan pantang kita guna melayakkan diri menyambut Paskah, kebangkitan Tuhan. Selama 40 hari pula saat mati raga itu akan kita lalui. Pelbagai macam godaan pasti akan, bahkan mungkin sudah terjadi dihadapn kita. Kita diajak untuk bertahan sebagimana Yesus mencontohan kepada kita, berani mengatasi godaan yang bertubi-tubi itu. Yesus menang Yesus memperoleh kebahagiaan, kegembiraan. Kitapun akan juga bahagia, gembira, kalau kita berhasil melepaskan diri dari godaan-godaan (minggu pertama puasa dan pantang kita).

Minggu kedua Prapaskah ini kita diajak untuk tidak ragu-ragu merasakan kebahagiaan, kegembiraan sebagai anugerah dari ketaatan. Bagikan ketiga murid yakni Petrus, Yohanes dan Yakobus tercengang melihat Yesus, Musa dan Elia yang penuh dengan kemuliaan diatas gunung itu. Mengapa Musa dan Elia yang tampak bersma dengan Yesus itu? Agaknya ketiganya mengalami pengalaman yang serupa sebagai hamba-hamba Yahwe yang taat kepada Allah, mendapatkan anugerah kemuliaan yang dijanjikan Allah. Ketaatan itu terungkap dari perjuangan melawan struktur dosa dari masing-masing jamannya. Belenggu-belenggu yang menghalangi kemerdekaan sebagai anak-anak Allah dipatahkan, umat disadarkan supaya hidup menurut jalan Tuhan. Itulah kunci kebahagiaan.

Peristiwa-peristiwa Musa dapat kita lihat diawal-awal kitab Keluaran. Musa artinya “menariknya dari air” (Kl 2:10), lahir dibawah kekejaman raja Mesir yang memerintahkan kepada selruh negerinya untuk membunuh setiap bayi yang lahir laki-laki. Karena ibunya sangat sayang kepada sang bayi, maka dihanyutkannya disungai dengan harapan ditemukan orang dan dibiarkan hidup. Puteri Firaunlah yang meneukan dan membiarkan bayi itu hidup, selamat. Dialah Musa.Musa dipilih Tuhan untuk menyelamatkan Israel. Musa harus mendaki “Gunung” untuk mendapatkan kemuliaan itu, artinya mengatasi situasi penderitaan, melalui perjalanan mengais-ngais persampahan bersma bangsanya untuk bertahan hidup, untuk berjalan terus menuju Kanaan, tanah terjanji. Situasi kemuliaan, Kanaan, tanah terjanji diperlihatkan oleh Lukas didalam Injilnya hari ini. Kebahagiaan orang tahan dalam cobaan menang dalam pertempuran melawan iblis, atau buah dari kesetiaan dari panggilan Tuhan tampak dalam wajah yang berubah berkilau-kilauan, sebagaimana ditangkap saksi mata ketiga murid Yesus itu.

Sedangkan peristiwa-peristiwa Elia, bisa kita lihat dalam Kitab Pertama Raja-raja. Elia tampil dalam sejarah Keselamatan pada jaman pemerintahan raja Ahab. Benjana kelaparan dan kekeringan menimpa seluruh negeri Israel. Benjcana itu menyadarkan Israel melalui wart pertobatan Elia bahwa mereka telah tidak setia kepada perjanjian. Benjana itu adalah akibat dari pemujaan kepada Baal yang diprakarsai raja Ahab. Raja Ahab mengajak bangsanya memuja Baal atas dorongan Izebel, permaisuri Ahab (1 Raj 16:32-33). Elia berhasil menyelamatkan Israel dari kekafiran, penyembahan kepada Baal itu. Ia menang dalam suatu permainan. Rakyat bertobat, selamat dari bencana kelaparan dan kekeringan. Jadi, Elia yang bercakap-cakap dengan Yesus diatas gunung dalam injil Lukas ini adalah suatu tanda nyata bahwa Elia orang yang selamat karena taat, Elia hidup, Elia mulia karena berani menentang kekafiran dijamannya. Kemuliaan bagi Elia adalah anugerah bagi orang yang setia dan taat kepada Tuhan: “Kegembiraan, kebahagiaan, suka-cita menjadi miliknya”.

Melihat peristiwa-peristiwa perjuangan yang mengantar Musa dan Elia kepada kemuliaan maka Yesus yang berubah rupa menjadi gambaran masa depan Yesus yang kini taat dan setia melaksanakan kehendak Bapa-Nya. Demikian halnya kegembiraan serta kebahagiaan Petrus, Yohanes, dan Yakobus menjadi gambaran nyata akan kebahagiaan orang-orang yang setia dan taat sebagai pengikut Yesus, gambaran nyata orang yang berhasil mengatasi segala godaan dan cobaan iblis.

Saudara-saudara yang terkasih, kita sedang memasuki minggu kedua Prapaskah. Seperti Musa, kita sedang berada dalam perjalanan menuju Kanaan, tanah terjanji, yakni “Paskah”, kebangkitan kita dari kejatuhan-kejatuhan akibat ketidaktaatan kita kepada Tuhan. Kita juga sedang seperti Elia di gunung Karmel yang sedang bertanding melawan Baal. Elia menang, maka kitapun diharapkan juga menang dalam bertanding melawan kehausan, kelaparan, kerakusan terhadap kecenderungan-kecenderungan keduniawian kita.

Akhirnya, kita saat ini bagaikan Yesus yang sedang naik keatas gunung untuk berdoa kepada Bapa-Nya. Diatas bukit itulah Yesus menemukan gambaran masa depan, gambaran orang-orang yang setia dalam iman. Bukankah sekarang sedang berada diatas gunung? Kita sedang bermatiraga untuk melaksanakan ajakan gereja yakni lebih banyak berdoa, puasa dan pantang, serta lebih banyak berbuat amal sebagai wujud tobat kita. Ingatlah selalu bahwa kita sedang berada dalam perjalanan, perjuangan, maka godaan akan selalu mebayang-banyangi kita. Ingatlah “sesudah iblis mencobai percobaan itu ia mundur daripadanya dan menunggu waktu yang baik” (Luk 4;13). Semoga kita tidak terjebak oleh iblis, kita menang, dan kita menikmati kebahagiaan, kegembiraan, dan suka cita sejati sebagi anak-anak Allah yang terbebaskan dari hukuman-hukuman dosa. Amin.

 

 

 

Umat menulis :

“Bagaimana Kita Bersikap Solider”

Oleh : Hr.

 

            Kita semua mungkin merasa trenyuh dengan peristiwa -peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini di tanah air kita tercinta. Baik itu peristiwa gunung meletus, banjir atau pun pertikaian antar etnis yang banyak menelan korban, bukan hanya korban materi namun yang lebih memprihatinkan adalah korban nyawa manusia. Bagaimanakah sikap kita sebagai orang kristiani yang “katanya” gereja adalah pejuang nasib orang kecil dan tertindas?

Kita tahu bagaimana kondisi masyarakat kita dan situasi hidup sekarang ini, Kita tahu bahwa dalam kenyataan banyak orang yang tidak tahu apa-apa malahan menjadi korban kekerasan, ketidakadilan, dan penindasan. Dan mungkin hal itu pernah kita lakukan dengan “tanpa sadar”. Orang yang cacat mental kerap kali mengalami diskriminasi; para banci dalam masyarakat kita mengalami diskriminasi. Ini adalah masalah yang sulit ditangani oleh banyak orang dan jemaat, tetapi jika kita tidak bersikap solider dengan para korban kekerasan dan diskriminasi itu, bagaimana kita dapat disebut murid Yesus? “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25: 40. 45).

Bersikap solider dapat mengambil banyak bentuk, diantaranya membela di muka umum hak-hak manusia dan memajukan sarana-sarana untuk memenuhi kebutuhan kelompok dan individu seperti itu di dalam gereja, sekolah atau pertemuan masyarakat juga perlu keberanian, tetapi jika kita tidak bangkit memihak dan membela “yang paling hina”, siapakah yang akan berbuat demikian? Kadang kala kita dapat bergabung dengan mereka dalam aksi-aksi mereka: demonstrasi-demonstrasi umum, untuk mengunjungi para pemimpin gerejani, politik, atau bisnis. Tindakan-tindakan lahir ini penting, tetapi sama pentingnya adalah perubahan batin. Menyempatkan diri untuk mendengarkan kisah mereka dan mengenali mereka sebagai pribadi untuk memperkaya pengalaman dan membantu terwujudnya pertobatan terus-menerus menuju sikap hidup murid Yesus secara lebih berani dan penuh belas kasih.

Yesus menerima kita seperti apa adanya, mengampuni keberdosaan kita, dan mengutus kita dengan janji untuk menyertai kita sepanjang jalan, setiap saat dan setiap langkah. Layakkah itu untuk segala usaha dan segala resiko yang kita tempuh? Memang, terasa seperti mengancam, terasa seperti mempertaruhkan nyawa atau memberikan nyawa. Itu memang tidak mudah. Allah berjanji untuk mendengarkan seruan orang miskin (lih. Mzm 72, 89). Kita dapat membela dan memihak para korban kekerasan dan ketidakadilan dengan penuh kepercayaan. Itu tidak berarti usaha kita selalu berhasil seperti yang kita harapkan. Akan tetapi, dengan kesaksian orang miskin sendiri, kita dapat percaya akan janji Allah untuk memberi kita daya kemampuan berpatuh setia dalam perjuangan.

Dalam masa tobat (puasa) ini adalah suatu kesempatan yang sangat baik untuk kita “berbenah diri” kata Ebiet G. AG, agar Tuhan tidak bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa. Berpuasa merupakan suatu panggilan dan juga sebagai silih atas kekerasan kita baik sebagai individu-individu, kolektif maupun sebagai bangsa. Tantangan yang disampaikan oleh semua gereja kepada kita umat beriman adalah agar kita mengambil resiko lebih besar demi perdamaian dan keadilan, dan menuntut kita menjadi nabi serta memiliki semangat doa.

Yang hendak kita lakukan dalam masa puasa ialah panggilan untuk hidup doa. Hari-hari puasa harus menjadi hari-hari istimewa untuk berdoa. Dalam berpuasa makan, seringkali kita tergoda, tergiur untuk makan. Saat ini menjadi undangan untuk berdoa, memohon berbicara pada Yesus untuk mengosongkan diri dan biarlah Roh Allah yang menguasai hidup kita agar segala karya kita sungguh berasal dari Allah.

 Dengan puasa kita juga menyadari  bahwa kita sungguh tergantung pada Allah dan memohon agar Allah memberikan keberanian kepada orang-orang yang menjadi korban kejahatan yang sedang kami lawan. Berilah kami keberanian, pengharapan  dan daya tilik yang lebih besar untuk melihat kehendak-Mu dan peranan kami. Dengan berpuasa kita belajar bersolidaritas, pada hari-hari puasa kita dapat mengalami banyak kesempatan untuk solider, yaitu waktu kita mengingat hidup orang-orang yang menjadi korban kejahatan yang kita lawan. Dan dengan puasa akan mampu mengarahkan diri kita kepada perbuatan amal kasih, yakni bersolider dengan semua orang, lebih-lebih dengan mereka yang hidupnya berkekurangan, menderita dan yang berada dalam ketidak-beruntungan. “…sumber hidupmu yang sejati adalah Kristus dan bila Ia tampak nanti kalian juga akan tampil bersama-sama dengan Dia dalam kebesaran-Nya” (Kol 3:4).

KASIH KARUNIA

Oleh : AR. S.

 

Kasih karunia merangkum makna bahwa dalam diri Yesus Kristus Tuhan tetap berpihak pada manusia. Kata ini mempunyai makna yaitu:

1.      Kasih karunia adalah pengampunan

Kasih karunia adalah rahmat yang memungkinkan kita melihat bahwa segala sesuatu mengenai diri kita adalah baik adanya. Kasih karunia melawan nistaan dan tuduhan serta kutukan. Kasih karunia selalu mengatakan bahwa diri kita baik adanya walaupun terdapat banyak kesalahan. Sabda yang penuh kuasa dari Yesus sendiri, dari atas salib-Nya, dari tempat Ia menghembuskan nafas-Nya, tidak menghakimi kesalahan manusia, tetapi menghibur dan mengangkat semangat jiwa orang berdosa, justru manusia dalam keadaan bersalah. Inilah pengampunan, kasih karunia yang merangkul manusia.

2.      Kasih Karunia adalah Kekuatan

Kasih karunia adalah kekuatan yang mendekatkan kita kepada Citra Ilahi, yang menjadikan kita pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Pada saat mengetahui bahwa kita diterima baik meskipun terperangkap dan terlilit sekian banyak kesulitan dan kelemahan, kita dibebaskan dari semua beban kesalahan, dan kepada kita diberikan kekuatan untuk menjadi manusia sesuai citra Tuhan. Dalam diri kita mulai bekerja kekuatan yang membebaskan, dan kita telah siap menuju citra Allah yang dimaksudkan Tuhan bagi kita.

3.      Kasih Karunia adalah Janji

Kasih karunia adalah kekuatan untuk hidup pada saat sekarang ini dengan meyakini bahwa hari esok akan lebih cerah. Bila akal sehat menyatakan bahwa hidup terasa beku karena keputusasaan, bila tidak terdengar jawaban dari manapun, bahkan bila teologi mengatakan bahwa Tuhan telah meninggalkan kita………semoga kasih karunia, yang menjanjikan rencana Tuhan bagi hidup kita agar hari esok lebih baik, menyertai kita.

 

Kita perlu mencermati bersama titik-titik peka dalam diri kita untuk mengetahui bagaimana memahami  dan merasakan rangkulan kasih karunia Tuhan yang membersihkan kita dari kesalahan dan kutukan. Mudah-mudahan kita dapat menangkap dan mengingat beberapa peristiwa yang kita alami dimasa lampau. Mudah-mudahan sesuatu didalam diri kita menggerakan hati kita  untuk merangkul kasih karunia Tuhan yang menghampiri dan memenuhi diri kita.

 

Info

 

 

 

Developed by Webmaster
at agendakatolik.com

last update : 4 Maret  2001