Make your own free website on Tripod.com

Renungan Mingguan : 
25 Maret 2001, Minggu Pra Paskah III

"Bapa Yang Berbelas Kasih"
Oleh : Rm. Y. Hardjono, Pr

Ada sebuah ceritera di satu majalah Mingguan, yang mengungkapkan tentang seorang anak yang sudah menginjak dewasa, sengaja meracun ayahnya, dengan pikiran kalau ayahnya meninggal, Ia mewarisi segala harta warisannya. Niat Jahat itu betul-betul dilakukan. 

Edisi lalu

18 Mar 2001

11 Mar 2001

04 Mar 2001

 

Saat Sang Ayah bergulat, berjuang antara hidup dan mati di Rumah Sakit, diperoleh keterangan, bahwa kejadian itu atas ulah anak .Sang ayah sendiri. Para penegak hukum, langsung menangkap si anak jahat itu lalu dibawa ke Polisi digiring ke sel dan diproses kepengadlian. Singkat centa sang ayah dapat tertolong, dan keadaannya membaik

Dalarn keadaan, sudah membaik itulah diberitahu bahwa yang meracuninya adalah putranya sendiri. Uniknya sang ayah ini tidak terkejut, tidak marah, malahan dengan tenang mengatakan niat jahat anaknya itu sudah beberapa kali di lakukan, hanya selalu dapat diatasi, tidak sampai ke rumah Sakit. Kemudian kepada sang ayah diberitahukan; sebagai akibat dan perbuatan anaknya itu, si anak mau diajukan kepengadilan, supaya sadar. Mendengar kisah itu. Sang ayah tiba-tiba menjadi panik, terus mengatakan: "anak saya jangan dibawa ke pengadilan, berapapun saya mau bayar, kalian harus tahu ia adalah anak saya ". Semua jadi bengong saja..,.kasih yang sungguh luar biasa bahkan ajaib. Dari antara kita mungkin ada yang tidak setuju dengan sikap sang ayah ini.

Dalam Injil Minggu ini, sudah sangat terkenal kisah anak yang hilang tsb.

Ada beberapa tokoh penting dalam kisah tersebut, ialah dua anak laki-laki satu pembantu dan seorang ayah. Sikap dua anak laki-laki tersebut sudah kita ketahui, si sulung setia dengan tugas dari ayahnya sedangkan si bungsu merusak suasana keluarga, menghamburkan harta, setelah tak berdaya, kembali keayahnya dan diterima denganr. sukaria. Di sini si pembantu pinya andil, ia bercerita kepada si sulung tentang adiknya, sampai-sampai si sulung semakin marah, jengkel, kecewa. Dalam kisah ini si pembantu mempunyal bakat membakar atau memanas-manasi, membuat ceritera lebih seru, sehingga si sulung benar-benar jengkel dan marah.

Yang menjadi pusat perhatian dalam kisah ini adalah Sang Ayah. Menghadapi semua peristiwa itu tetap sabar, tidak marah, tidak terpancing oleh omongan banyak orang, Sang ayah tetap kukuh, mencintai anaknya baik si sulung yang setia di rumah, maupun si bungsu yang menyebalkan. Sang ayah tetap menerima kedua anaknya dengan keunikan masing-masing baik kelebihan maupun kelemahannya. Keduanya adalah anaknya. Dalam refleksi kita bersama untuk minggu ini, kita secara jujur dapat saja bersikap seperti si sulung atau pun si bungsu, atau sebagai si pembantu atau sebagai sang ayah. yang arif, sabar dan bijaksana.

Sebagai orang Kristiani sering berfikir, "aku sudah baik, benar, dekat dengan Tuhan, setia dengan semua aturan keagamaan. Lalu sering juga dengan mudahnya mengadili orang lain sebagai yang jelek, kurang setia, atau bahkan orang lain kurang beriman. Saya sudah baik/suci. Bahkan sering sulit menerima siapapun yang sudah pernah bersalah. Kurang mau bergembira secara jujur kalau ada orang lain bertobat.

Bisa saja kita bersikap seperti pembantu, yang senang mengompori, memanas-manasi, membakar situasi. menyebar issu/gossip, membesarkan cerita, sehingga membangkitkan kemarahan, kebrutalan atau kebencian terhadap orang lain sepertinya tidak sreg kalau keadaan ini aman/damai. Slkap seperti si bungsu juga bisa terjadi, karena merasa tertekan, tidak bebas. Gereja terlalu banyak aturan/larangan, lalu lari dari gereja, pindah gereja atau malah pindah agama. Larl dari Tuhan dan menyia-nyiakan rahmat, merasa mau melakukan semua dengan kekuatan sendiri. Setelah kejeblos dalam penderitaan yang tak ter-tahankan, baru ingat Tuhan, yang biasanya sudah terlalu parah atau terlambat dst-dst.

Gereja mendambakan agar kita ber-sikap seperti sang ayah, yang tetap rela menerima dan mencintai sesama kita, entah orang baik yang dekat dengan kita maupun yang jauh atau yang tidak senang dengan kita. Menjadi orang yang arif dan bijaksana, berfikir yang jernih, tetap tabah hati, tidak mudah dikompori, mau memahami kesulitan, kelemahan maupun penderitaan orang lain, justru rela menerima semua sebagai saudara.

Sikap ltulah yang sebenarnya adalah sikap Allah sendiri sebagai Bapa kita. Kita diajak untuk tetap percaya dan merasakan bahwa Tuhan bersikap seperti iti terhadap kita. Apapun dan bagaimanapun keadaan kita Allah tetap menerima kita secara penuh. Karena itulah, kita disadarkan untuk menerima orang lain demi perkembangan hidup masa depan.

Inilah bukti pertobatan kita yang pantas kita lakukan dalam masa Pra Paskah ini. Bertobat berarti selalu berniat menjadi lebih baik hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, rela mencintai sesama. Bersama Tuhan, mengampuni sesama, membangkitkan semangat baru kepada orang bersalah yang bertobat.

Salam dan berkat.

 

 

Umat menulis :  

SEORANG IMAM
Oleh : Y. Budi Santoso

  • Seorang Imam, siapapun dia, adalah selalu Kristus yang lain.
  • Meskipun engkau telah mengetahuinya dengan baik, saya ingin mengingatkanmu sekali lagi bahwa seorang Imam adalah "Kristus yang lain", dan bahwa Roh Kudus telah berfirman, "Nolite tangere Christos Meos"", yang artinya : "Jangan sentuh Kristus-Kristus-Ku"
  • Presbyter-imam-menurut asal-usul katanya berarti seorang yang telah lanjut usia. Jika seorang yang telah berusia lanjut patut untuk dihormati maka renungkanlah seberapabesarnya engkau harus menghormati seorang imam.
  • Betapa rendahnya budi pekertimu dan betapa kurangnya rasa hormatmu, memperolok-olok seorang imam, siapapun dia dan- dalam situasi apapun juga!
  • Saya akan katakan secara tegas: olok-olokan iman atau lelucon tentang seorang imam itu, meskipun tampaknya tidak mengandung sama sekali bagimu, namun paling tidak tetap saja semuanya itu kasar, menunjukan kurangnya budi pekerti yang baik.
  • Betapa kita harus mengaguml kesuci murnian imamat! Itulah kekayaannya. Tak ada satu kekuasaan pun dimuka bumi ini yang mampu merenggut mahkota kemurnian tersebut dari Gereja.
  • Janganlah pemah melibatkan seorang imam kedalam suatu keadaan yang dapat menyebabkan la kehilangan keluhuran martabatnya. Martabat ini adalah suatu kebajikan yang harus ia miliki tanpa bermaksud untuk menyombongkan diri sendiri.
  • Betapa tekun imam muda, teman kita itu memohon dalam doanya " Ya Tuhan, anugerahilah hambaMu ini....delapan puluh tahun keluhuran martabat imamat!", Panjatkanlah doa demikian bagi seluruh imam, dengan demikian engkau telah melakukan suatu karya yang baik.
  • Hatimu terluka, bak tertusuk sebuah, pedang mendengar orang orang berkata bahwa engkau telah berkata buruk terhadap iniam-imam tersebut. Dan saya gembira kalau hal itu membuat hatimu bersedih, karena saya yakin akan semangatmu yang baik!
  • Mencintai Iman dengan tidak menghormati imam ... adalah hal yang tidak mungkin.
  • Seperti anak-anak Nabi Nuh yang baik, tutupilah kekurangan-kekurangan yang mungkin engkau dapati pada bapaMu, seorang imam dengan kerudung cinta kasih.

Dipetik dari buku asli "Camino Karya" oleh Mgr.Escrina. Buku dalam bahasa Indonesia berjudul "Jlan Imprimatur" oleh : B.S. Mardiatmadja, SJ.

"Cinta kasih Yang Membebaskan"
Oleh : HR

Begitu banyak sesuatu yang harus dikerjakan dengan tangan, maka kita merasa bahwa tangan sangat penting fungsinya bagi manusia. Mungkin itu pula banyak istilah yang menggunakan kata "tangan", misalnya ringan tangan, artinya suka menolong. Panjang tangan, artinya suka mencuri. Cuci tangan, artinya tidak mau campur persoalan orang lain. kaki tangan artinya pesuruh yang yang setia. Campur tangan, maksudnya suka mencampuri urusan orang lain. Tetapi ada istilah yang lebih simpatik dari semua itu, yaitu "turun tangan". Nah, yang ini apakah maksudnya ?

Kota Jakarta adalah kota "Metropolitan", namun di satu sisi kota Jakarta ada daerah yang amat kotor dan kumuh. Kalau daerah ini dibiarkan begitu saja berlarut-larut, pasti banyak dampak negatifnya. Diantaranya ada pemandangan yang tidak indah, bau yang tidak sedap, dan menyebarnya bibit penyakit. Untuk mengatasinya, pemerintah pusat atau atasan sudah mengatakannya agar tempat itu segera dibersihkan, namun yang menjadi persoalan "siapa yang mau turun tangan?".

Dalam Kitab Suci dikatakan, bahwa Allah telah berulang kal mengutus "Para Nabi", namun tetap saja banyak orang (bangsa) yang tidak percaya dan pada akhirnya Ia mengutus Putra-Nya yang Tunggal. Yang sebelumnya Allah telah mengutus Yohanes. Yohanes Pembaptis hidup dalam jaman peralihan yaitu peralihan dari jaman Perjanjian Lama menuju Perjanjian Baru. Yohanes menyerukan kepada kita semua tentang pertobatan, "Bertobatlah Kerajaan Allah sudah dekat"'. Yesus sendiri 'setuju' dengan ajakan tersebut. Dan kita juga mengetahui bahwa seluruh Injil pada dasarnya berisi tentang "ajakan untuk bertobat".

karena dunia ini sudah kotor dengan segala ulah semua manusia. Allah sendiri menjelma menjadi manusia yakni dalam diri Yesus. Tuhan turun tangan untuk membersihkan dunia dari kotoran tangan manusia. Pada akhirnya kita menghirup udara segar, yaitu rahmat cinta kasih Allah, dengan pengorbanan-Nya di kayu Salib.

Dalam masa pertobatan ini apakah yang sebaiknya kita perbuat? Bagaimana "Kebebasan Sejati sebagai anaka-anak Allah" dapat kita rasakan?. Betobat bukan pertama-tama harus berbuat bersih tanpa dosa, tetapi harus merombak cara berfikir atau prinsip hidup kita. Kita semua dalam kenyataannya tidak dapat terlepas dari salah dan dosa. Kita harus selalu bertobat tanpa henti, seperti apa yang diserukan oleh Yohanes di padang gurun. Kita yakin bahwa pertobatan adalah anugerah Allah. Pertobatan kita tidak sebanding

dengan pengampunan dan belas kasih Allah. Dan dengan "Cinta Kasih" itu kita akan dibebaskan menjadi anak-anak Allah.

 

last update : 25 Maret  2001