Make your own free website on Tripod.com




Edisi lalu

11 Mar 2001

04 Mar 2001


Renungan Mingguan : 

18 Maret 2001, Minggu Pra Paskah III

Bertobatlah Kerajaan Allah Sudah Dekat”
(Kel 3:1-8a;13-15;1Kor 10:1-6;10-12;Luk 13:1-9)

Oleh : Rm. Yohanes Suradi, Pr.

           Minggu yang lalu kita diajak untuk merenungkan “kebahagian sejati anak-anak Allah”, artinya bahwa kebahagian itu tidak hanya yang tampak, terasa saat ini saja, melainkan ada kebahagian yang lain, yakni “kebahagian abadi”.Kebahagian abadi, atau kebahagian kekal adalah ‘surga’ bagi orang beriman. Jadi, surga  baru akan kita nikmati setelah kita meninggal. Nah, masa puasa adalah masa untuk  berdamai dengan Tuhan, agar dosa-dosa kita diampuni dan kita diberi surga, kebahagian abadi itu.

“Pergunakan lah kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita, agar kita tidak menyesal dikemudian hari”, menjadi tema renungan kita minggu ini.Tuhan begitu murah hati, tawaran kita dipenuhi; setelah tuntutan kita dipenuhi apa yang mesti kita lakukan? Coba, kita jawab! Seruan mempergunakan  saat berahmat ini tampak jelas dari perumpamaan ‘pohon ara’ yang tumbuh di kebun anggur seseorang. Digambarkan bahwa seorang pemilik kebun anggur mempunyai sebatang pohon ara yang ditengah-tengah kebun itu. Harapan yang mempunyai kebun adalah buah pohon ara yang tumbuh dengan subur itu. Namun bagaimana sikap pemilik kebun itu ketika melihat bahwa pohon itu  tidak berbuah? Beranglah sang pemilik kebun ara ini berjanji akan  berusaha sedemikian rupa agar tahun kemudian akan berbuah.Tawaran lebih lama dan lebih baik masih ada.

Pemilik kebun anggur dalam perumpamaan tadi adalah ”Tuhan“ sendiri. Sedangkan pohon ara yang tumbuh ditengah-tengah kebun itu adalah manusia, sedangkan kebun anggur sendiri adalah dunia tempat manusia hidup/berjuang, tempat Tuhan menyemai bentuk-bentuk kehidupan.Tuhan telah menciptakan manusia.Tuhan telah mamberi nafas, maka ada kehidupan.Agar hidup manusia itu ada arahnya jelas maka Tuhan memberi akal budi dan perasaan. Terlebih pula agar manusia tidak sepi, sendirian, Tuhan memberikan sesama dan segala makhluk lain entah yang hidup/yang bergerak atau yang berwujd benda mati. Semua diciptakan agar manusia bahagia. Namun Tuhan juga membuat bahwa kebahagian itu akan dirasakan kalau manusia tetap menjalin relasi dengan Tuhan Sang Pencipta/pemberi hidup. Itulah yang dinamakan “iman”, kepercayaan atau penyerahan diri secara total kepada Allah.

Apa yang diharapkan Tuhan dengan relasi atau iman ini? Agar manusia tidak lupa kepada Penciptanya. ”bagai kacang tidak akan lupa dengan kulitnya”, kata sebuah perumpamaan. Namun bagaimana kenyataannya? Bagaimana pohon ara tadi, manusia meninggalkan Tuhan, lupa dengan Penciptanya bahkan sudah mulai mengandalkan kekuatannya sendiri, Tuhan dianggap buta, pengganggu kebebasan maka ditinggalkan. Itulah yang disebut dosa manusia. Akibat dosa manusia mati artinya kebahagian bagaimana dahulu diciptakan Tuhan menjadi hilang. Orang harus berjuang, bekerja keras untuk mendapatkan kembali kebahagian itu.

Meski dikecewakan, Tuhan tidak menutup kemungkinan kembali relasi itu. Bahkan Tuhan terus menerus menawarkan kebahagian relasi. Berarti sekalipun berat, sering jatuh, Tuhan meminta agar jangan putus asa, melainkan juga tetap berusaha. Mengingat perjuangan itu berat, Tuhan memberikan  penyertaan melalui para utusan-Nya, misalnya Musa, Yesus, dan akhirnya Roh Kudus, agar menyertai, mendampingi, dan mengingatkan manusia agar jangan jatuh, atau bangun bila jatuh.

Musa, dalam bacaan pertama minggu ini diutus Tuhan, untuk menyertai bangsa Israel dalam berjuang mencari kebahagian lepas dari perbudakan bangsa Mesir. Dalam perjumpaan itu Musa menjadi perantara Tuhan  bagi Israel supaya jangan frustasi, patah semangat, tetapi terus berusaha bangun dari kejatuhan, dari penderitaan itu. Tuhan tidak sampai hati melihat penderitaan manusia, Tuhan mendengar seruan mereka. Tuhan bahkan menjadi jaminan Musa yang merasa takut/tidak mampu menghadapi bangsa yang menderita bertubi-tubi ini, yang hampir tidak lagi percaya adanya Tuahan ini. “Akulah Aku”, adalah bukti/tanda, bahwa Tuhanlah yang berperan didalamnya, Tuhanlah yang berkarya dalam pribadi Musa.

Perjuangan itu tampak sekali dalam sejarah kehidupan manusia berikutnya. Akhirnya Yesus sendiri harus tampil dalam perjuangan mencari kebahagiaan itu. Allah harus turun menyelamatkan bangsanya, Tuhan harus menjadi seperti manusia agar percaya bahwa Tuhan ada. Bahkan Tuhan harus mengutus Roh Kudus, untuk tetap menyertai manusia ini.

Rekonsiliasi, perbaikan kembali adalah unsur utama manusia untuk mendapatkan kembali kebahagiaan sejati itu, apalagi kebahagiaan kekal, yang baru akan diterima nanti kehidupan nyata di dunia ini. Bahkan hidup di dunia ini tidak lain adalah upaya untuk mencapai kebahagiaan itu.

Nah, masa Prapaskah adalah masa “Rekonsiliasi” itu. Saat tawaran untuk membersihkan, mencangkul tanah disekelilingnya dan memberi pupuk, supaya berbuah, supaya tidak ditebang oleh pemilik kebun itu. Tuhan sungguh sangat baik, permintaan kita untuk bersabar dipenuhi. Tetapi bagaimana setelah permintaan itu dipenuhi? Maukah kita menggunakan “saat/kesempatan/waktu” yang Tuhan berikan ini dengan sebaik-baiknya supaya mendapatkan kembali kebahagiaan yang telah rusak akibat dosa ini? Maukah kita menggunakan “waktu” ini untuk berusaha “merayu”  Tuhan agar tidak menjatuhkan kerukunan, atau “merayu” Tuhan agar kebahagiaan kekal itu juga menjadi milik kita? ”Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!”, mumpung masih ada waktu, masih bisa bertobat. Amin.

 

 

 

Umat menulis :

Latihan Dasar Kepemimpinan  
-Oleh Panitia Penyelenggara LDK-

           Apa sih LDK? Kata mang Kumis sih Latihan Dasar Kepemimpinan itu program pelatihan untuk mempersiapkan calon-calon pemimpin dengan memberikan kemampuan teknik dasar yang sangat penting dan berguna untuk membekali pengetahuan memimpin bagi seseorang, kelompok, ataupun masyarakat. Paling ‘ngak sangat penting untuk membantu seseorang untuk mengembangkan diri dan kelompoknya.

Untuk apa LDK dibuat di St. Matias?

Bagaimanapun Paroki St. Matias ingin kiprahnya tetap eksis sampai kapanpun, bahkan kalau bisa membangun Paroki-paroki baru yang mandiri. Tapi? Mana mungkin  30 tahun lagi tetap eksis kalau “Tokoh-tokohnya” sudah pada masuk surga, sementara anak dan cucunya ‘ngak ada yang becus ngurus Paroki, habis (kata mang Kumis) wong ndak ada regenerasi kok ngarepke eksis, ndak bisa itu. Memang LDK penting untuk kami Mudika St. Matias, karena?

            “Kami Mudika St. Matias….”

Kami dikenal sebagai sebuah komunitas kelompok kategorial muda-mudi beragama Katolik yang berjaket biru tua (belon punya? Makanya dateng dong ke acara-acara Mudika dan Tanya Mas Slamet), yang tinggal dilingkungan gereja St. Matias Cinere plus muda-mudi diluar Paroki yang pengen bergaul sama kami (mungkin kami caem-caem kali….he…he…he).

            “…ingin bersatu padu…”

Ketika sekelompok orang sudah memutuskan untuk mendirikan suatu oraganisasi, atau ingin masuk sebuah organisasi, maka sudah menjadi suatu konsekwensi logis bahwa mereka harus bersatu. Persatuan macam mana? Persatuan dalam emosional dan tindakan yang tentunya merupakan suatu proses dalam mencapai tujuan bersama. Persatuan ide? Weleh…weleh… eta mah namina Fasis, kaya Hitler nyuruh robot-robotna. Ide boleh berbeda, dan penciptaan iklim yang bebas untuk ngeluarin pendapat  merupakan syarat mutlak lahirnya ide-ide kreatif yang membawa organisasi itu pada tujuannya (kalau di Matias pegimana jang? Atut ah ‘njawabnya). Kalau kita mengingat kembali pelajaran SMP tentang hukum mekanika Fluida (Hukum Pascal), dijelaskan bila suatu Fluida (cairan) mengalami tekanan, maka akan terjadi perlawanan dengan kekuatan sebesar tekanan tersebut, ini diakibatkan karena kerapatan (kekompakan) fluida makin meninggi. Tapi kalau sekelompok manusia ditekan/ditindas tetapi tidak melakukan perlawanan (seperti umat Katolik yang sudah terlalu kenyang diobok-obok bom Josua…eh…?) berarti manusia tersebut tidak siap/bisa melakukan perlawanan dan ini mengikuti hukum “semut diindhak sikil!….mati!!” untuk membuktikan kebenaran hukum Pascal yang diamini Erich Hoffer dalam buku “true believer” (Gerakan Masa) yang menulis bahwa manusia dapat melakukan tindakan perlawanan (atau berkembang) jika manusia tersebut bersatu. Dengan bersatu semua dapat dikerjakan dengan lebih ringan. Untuk itu Mudika harus bersatu padu menjadi keeksisan Gereja di masa datang. Lain kata perlu regenerasi dan salah satu caranya dengan LDK untuk menciptakan pemimpin-pemimpin yang mampu mempersatukan umat.

            “…dibawah Paroki St. Matias tercinta…”

Tapi benarkan St. Matias mencintai kita? Mari kita lihat sejarah. Paduan suara yang layak dibanggakan “Jubilate” terancam bubar karena tidak mendapat dukungan. Lingkungan-lingkungan yang berjanji mengirimkan mudikanya sampai saat ini belum terlaksana. Mudika yang sempat hidup dengan melakukan kegiatan-kegiatan sekarang hampir kehabisan tenaga karena ngak ada mudika baru yang dateng dan bahkan banyak yang menghilang. Jadi untuk apa kita mencintai St. Matias? Tunggu…!!

Jika kita melihat sekitar Garasi Gereja, kita akan melihat ruang baru yang nantinya akan diperuntukan bagi sekretariat Mudika. Kalo pas Minggu seharian kita iseng-iseng nongkrong di Gereja, kita akan melihat anak-anak Bina Iman dan Misdinar yang antusias. Jika kita mau Tanya pada mbak EdithaJ. Dengan kelompok Baksos yang tetap eksis dengan kegiatan-kegiatannya. Jika kita tahu bahwa para Pembina Mudika mati-matian memperjuangakan mudika. Jika kita melihat bapak dan ibu-ibu kita mendirikan basis. Jika kita melihat Romo yang ngotot apapun terjadi LDK harus terlaksana dengan mengundang tokoh-tokoh yang sangat berpengalaman dalam pembinaan.

Ternyata St. Matias mencintai kita anak-anaknya. Kita dapat memilih kegiatan-kegiatan yang dipersiapkan untuk menimba pengalaman.

            “…agar dapar melangkah dengan gagah....”

Diperlukan suatu keberanian untuk  melakukannya, dalam kondisi Mudika seperti sekarang ini apakah kita masih berani melangkah dengan gagah?  Dengan memulai langkah baru (bukan awal) lewat kegiatan LDK Mudika St. Matias kita melatih langkah gagah kita, mari kita buktikan!!

            “…untuk meraih cita-cita…”

Tentunya cita-cita bersama kita secara organisasi. Sasaran dalam waktu dekat? Jelas!! Kita akan mengadakan LDK yang didukung penuh oleh Paroki.

            “…mencoba berbakti dan berkarya ‘tuk Gereja dan Negara…”

Negara dalam arti kata apa? Negara (menurut Franz Magnis Suseno) mempunyai dua definisi, pertama yaitu masyarakat atau wilayah yang merupakan satu kesatuan politis itu, misalnya Indonesia. Kedua, yaitu lembaga pusat yang menjamin kesatuan politis itu, disebut pemerintah. Berbakti untuk gereja dan masyarakat? itu jelas, karena kita merupakan bagian tak terpisah dari rakyat Indonesia, dan kita (mudika) sebagai warga Gereja harus bergerak bersama dalam usaha mencapai yang kita cita-citakan. Berbakti untuk pemerintah? Wadooh….urang pribadi ngak bisa njawab!

“…tak gentar akan rintangan dan cobaan…”

Seperti tulisan diatas, mari kita buktikan!

“…dengan semangat untuk maju…”

Cukupkah hanya dengan semangat Seperti juga harus diikuti dengan otak dan tenaga, kalau ngak gitu namanya nekad!

“…Hidup Mudika St. Matias!!”

Perlu suara, tenaga, pikiran, keringat dan pengorbanan  untuk mewujudkannya.

“Kapan dan dimana LDK diadakan?”

LDK diadakan tanggal 24 – 26 Maret 2001 di Wisma Hijau Trubus Cibubur.

“Siapa pembicara”

Pembicara yang diundang bapak Arswendo, Bapak Ardi Kurdi, Ibu Dian Budiargo, dan pembicara-pembicara lain yang sangat profesional dalam bidangnya.

‘Siapa peserta”

Peserta tentu saja Mudika, dari masing-masing lingkungan dalam Paroki St. Matias disertakan dua orang, dari masing-masing kelompok kategorial dua orang. Dan juga diundang dari Paroki-paroki lain di ke-uskupan Bogor. Diingatkan bagi lingkungan yang belum mendaftarkan mudikanya agar segera mendaftar, karena waktu pelaksanaan  sudah dekat.

“Apa materinya”

Teknik-teknik kepemimpinan, motivasi, komunikasi, pengenalan Basis, pengenalan Lingkungan Gereja, teknik notulensi, proposal, de..el..el..pokoke dijamin pulang jadi provokator…eh pelopor denk!

 

Pengumuman Minggu Ini :

REKOLEKSI WARAKAWARI 
( Koordinator Telp 769-5009/750-4551)
Kami mengundang seluruh anggota ibu-ibu warakawuri St.Monika yang telah terdafta atau yang belum terdaftar untuk menghadiri acara rekoleksi pada : hari Kamis tanggal 22 Maret 2001, pukul 10:00-14:00, di tempat aula Gereja oleh Rm Y.Hardjon Pr. kami mengucapkan terima kasih atas perhatian dan kehadirannya.

PDKK St. Matias :
PDKK akan mengadakan pertemuan pada hari Rabu, tanggal 21 Maret 2001, pukul 19:30 dengan tema : "Apa dan Bagaimana Memperoleh Hikmat Allah", oleh Bpk. Hariyanto Onggodipuro. kami mengharapkan kehadiran para anggota dan Bapak/Ibu sekalian yang terkasih. Tuhan selalu memberkati.

SEKSI KERASULAN KELUARGA :
Seksi Kerasulan Keluarga bekerja sama dengan WKRI Cab.St.Matias akan mengadakan kursus merangkai bunga melati dan janur. Diutamakan untuk dekorasi gereja. Akan diadakan pada hari Sabtu, 26 Maret 2001 pukul 09.00-15.00, tempat : Aula Gereja St.Matias, biaya Rp.5.000/orang (untuk biaya makan siang). Dan karena keterbatasan tempat, peserta kursus dibatasi yaitu : 2 (dua) orang dari setiap lingkungan dan anggota WK yang berminat.

INFO PANITIA PASKAH:
Bagi Umat yang ingin menyumbang Perayaan Paskah 2001 harap menghubungi : Ibu Novita 754-2524, Ibu Andien 753-2432, Ibu Andrie 754-1519, Ibu Niniek 753-0217. 

 

Developed by Webmaster
at agendakatolik.com

last update : 18 Maret  2001